image

Pro kontra yang menempel di isu-isu yang berhubungan dengan kaum Yahudi yang membuat hampir seluruh orang di dunia penasaran siapa sebenarnya, mau apa, dan akan seperti apa kaum Yahudi. Sebut saja Nazi versus Yahudi, Yahudi di selipan World War, Yahudi di antara konflik Palestina dan Israel, hingga isu tokoh kaum Yahudi yang akan menjadi penguasa dunia.

Beberapa buku telah banyak menceritakan mengenai sejarah, perkembangan, dan cita-cita Yahudi dengan versi, sumber dan analisis yang beragam. Kalau pernah membaca History of God tulisan Karen Armstrong, buku itu menceritakan hubungan antara Yahudi, Kristen dan Islam namun tidak utama bersumber pada Kitab Suci terlebih Al-Quran, paling hanya kutipan yang disambung-sambungkan. Kalau buku Holocaust Industry lebih menceritakan Yahudi pada masa kejayaannya dan keterpurukannya selama fase perang dunia, isinya tentu lebih dominan politik. Buku dengan genre fiksi pun tidak kalah, The Boys with Stripped Pyjamas cukup berhasil menghpnotis pembacanya tersedu-sedu iba pada kaum rakyat bisasa Yahudi yang harus menerima akibat dari pimpinan Yahudi yang berperang. Bagusnya buku ini sampai-sampai dijadikan film layar lebar dengan menonjokan nilai-nilai universal yaitu bagaimanapun peperangan selalu menimbulkan kerugian bagi keturunan-keturunan yang tidak bersalah sama sekali, terlebih anak-anak.

Nah buku yang akan diresume di sini adalah buku yang direkomendasikan untuk dibaca. Sebuah buku tulisan Manshur ‘Abdul Hakim (penulis Timur Tengah yang beragama islam). Aslinya buku ini adalah berbahasa Arab, namun buku yang saya baca adalah yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang diterbitkan Mizania pada Oktiober 2015. Sudah sejak November 2015 buku ini dibeli, namun baru berhaasil dirampungkan akhir-akhir ini. Yang spesial dari buku ini adalah analisis penulis yang luas bersumber pada Al-Qur’an, Perjanjian Lama (Taurat), Perjanjian Baru (Injil) dan fakta-fakta sejarah.

Poin-poin penting yang disampaikan Manshur ‘Abdul Hakim dalam buku ini adalah:

1. Beberapa kali Al-Qur’an menyebutkan seolah olah bahwa Bani Israel sama dengan Yahudi. Setelah ditelusuri, Yahudi tidak sama dengan Bani Israel. Yahudi adalah kaum yang dahulunya berasal dari Bani Israel yang kemudian membantah dan mendirikan ritual sendiri yaitu kepercayaan atau agama Yahudi.

2. Bani Israel adalah kaum yang berasal dari Nabi Ya’qub as. Bani Israel ini pun berkaitan erat dengan bangsa Ibrani. Bangsa Ibrani, seperti penggalan kata yang ada pada kata Ibrani, yaitu bangsa dan keturunan dari Nabi Ibrahim as. Berdasarkan riwayat dan sejarah, Nabi Ibrahim (Abraham) menikah dengan Keturah, Siti Sarah dan Siti Hajar. Nabi Ismail as adalah putra dari Nabi Ibrahim as dan Sitii Hajar, sedangkan Nabi Ishak as adalah putra dari Nabi Ibrahim as dan Siti Sarah. Nah, Nabis Ishak as memiliki putra yaitu Nabis Ya’qub (Jacob) yang banyak disebut namanya dengan sebutan Israel.

3. Bani Israel terkenal terdiri dari 12 suku/kabilah yaitu masing-masing merupakan keturunan atau anak dari Nabi Ya’qub (Israel), salah satu keturunannya adalah Nabi Yusuf as.

4. Berdasarkan hal tersebut diketahui bahwa agama yang dianut oleh Bani Israel adalah agama yang disebarkan oleh Nabi Ya’qub as yaitu islam. Sementara sifatnya manusia adalah tidak semua bani israel taat dan patuh pada perintah Islam.

5. Diketahui bahwa pada masa perjalannya ada yang meriwayatkan 2 dari 12 kabilah (yang mayoritas nilai Yahudi nya lebih kuat) ini hilang pada saat peperangan dan tak ditemukan. Disinyalir bahwa beberapa kaum ini lah sudah tersebar ke penjuru dunia bercampur dan berasimilasi dengan masyarakat asli penduduk. Ini terbukti dari ditemukannya kaum Yahudi di beberapa banyak negara memiliki ritual yang mirip dengan ritual ketuhanan yang dilakukan oleh kaum dari kabilah yang selama ini dicari. Sejak saat ini lah dipahami bahwa kaum Yahudi adalah keturunan dari orang-orang yang menganut agama Yahudi atau pemeluk agama Yahudi yang telah disebarluaskan dan dikembangkan oleh para pewaris dari kabilah yang hilang.

6. Mengenai isu pro kontra perebutan wilayah Yerussalem/Palestina. Beberapa kaum Yahudi yang ditemui saat ini memiliki persepsi berbeda-beda mengenai keinginan untuk kembali dan menguasai Tanah Suci Yerussalem/Palestina. Diantara mereka ada yang sangat peduli untuk menyatukan seluruh Yahudi dan kembali menguasai Yerussalem/Palestina. Adapun, tidak sedikit kaum Yahudi yang tidak peduli untuk kembali ke Tanah Suci.

7. Berkaitan dengan poin nomor 5 dan 6, sehingga Yahudi yang ada saat ini yang tersebar di berbagai tanah dan negara adalah tidak serta merta keturunan Bani Israel karena mereka telah bercampur gen hingga beberapa keturunan. Hal ini tentu menjadi highlight yang sangat besar bahwa kaum Yahudi saat ini tidak ada kaitannya dengan keinginan Bani Israel untuk kembali ke Tanah Suci Yerussalem/Palestina. Bahwa momok keinginan kaum Yahudi ingin kembali ke menguasai Tanah Suci Yerussalam/Palestina yang sesuai dengan misi Bani Israel adalah disinyalir hanya alih alih kepentingan golongan dengan identitas Yahudi yang ingin menguasai dunia atau disebut para Zionis. Meskipun lebih dalam lagi buku ini juga mengulas bahwa tidak menutup kemungkinan masih ada beberapa gelintir yang benar-benar keturunan Bani Israel dalam tubuh para Zionis tersebut.

Tidak mudah membuat resume dari buku ini, jadi lebih baik dibaca secara detail dan berulang-ulang ditambah dengan membaca dari sumber lain yang juga terpercaya. Noted and suggested to my self too.

Terus lah mencari kebenaran dengan harapan menjadi manusia yang tidak mudah diprovokasi dengan isu-isu sensitif namun ternyata dibohongi dengan fakta yang diubah dan digeser dipindahkan.

Karena setiap dukungan satu manusia kepada suatu hal amatlah besar dampaknya bagi dunia dan terlebih Islam mengingatkan bahwa sesungguhnya setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban.

CMIIW (Correct Me If I am Wrong), Wallaahu a’lam bish-shawaab.

Posted in