

Buku ini pengembangan dari biografi Moh.Hatta: Memoir yang pertama diterbitkan pada tahun 1979, satu tahun sebelum Hatta meninggal dunia (Maret 1980). Hatta menuliskannya setelah tahun 1969 setelah bukunya berjudul “Sekitar Proklamasi” diterbitkan. Jumlah total halaman buku ini sekitar 805 halaman disadur menjadi 3 jilid buku ini (saya sebut trilogi saja ya). Jujur, ini salah satu buku terlama yang saya baca, bukan karena 800 halaman, tetapi memang diksi dan narasi bacaannya memang zaman dulu sekali. Padahal di versi trilogi buku ini, narasinya sudah banyak yang disesuaikan oleh Meutia Hatta (putri Moh.Hatta) dan sudah tidak ada sama sekali yang menggunakan ejaan lama, kecuali beberapa lampiran (untuk menjaga keaslian sumber). Saya belum pernah membaca versi yang pertama (Memoir), namun bisa membayangkan bagaimana akan kesusahan membaca yang versi pertama.
Jilid pertama buku ini “Menuju Gerbang Kemerdekaan” berisi latar belakang keluarga dan budaya yang mempengaruhi Mohammad Hatta sejak kecil, perjalanan pendidikan dasar di masa kolonialisme hingga saat menjadi mahasiswa di Belanda, belajar berorganisasi saat masih sekolah di Padang, di Batavia dan pengalaman organisasi dan politik di luar negeri. Buku jilid pertama ini lebih tebal (100-150 halaman lebih banyak) dibanding kedua jilid lainnya. Judul jilid kedua adalah “Berjuang dan Dibuang”, berisi catatan Hatta saat kembali ke Tanah Air untuk berjuang melawan kolonialisme hingga saat beliau diasingkan beberapa kali oleh Belanda. Sesuai judul buku jilid ketiga “Menuju Gerbang Kemerdekaan”, menceritakan perjalanan perjuangan menjelang 17 Agustus 1945 dan sengketa yang dibuat Sekutu dan Belanda setelahnya hingga Agresmi Militer Belanda II dan berakhir saat pembentukan Republik Indonesia Serikat pada tahun 1949. Padahal saya berharap buku ini bisa lebih panjang hingga tujuh tahun setelahnya saat pengunduran diri Hatta dari Wakil Presiden RI. Penasaran sekali jika ada yang ditulis Hatta tentang hati dan pikirannya saat mengundurkan diri.
Bagaimanapun tidak ada yang disesali dari ketiga buku ini, ada banyak sekali fakta sejarah dan filosofi sejarah yang berharga yang saya sama sekali tidak pernah dapatkan selama belajar sejarah kemerdekaan Indonesia. Mengupas tuntas buku ini rasanya butuh berbulan bulan dan beribu bahkan berjuta kata, tentu saya tidak sanggup. Namun ada beberapa fakta, filosofi dan kesimpulan dari buku ini yang sayang jika tidak dicatat. Adalah tentang karakter Hatta dan tentang fakta sejarah kemerdekaan tanah air yang hampir tidak pernah ada di buku sejarah anak sekolah, saya akan tuliskan di sini.
Banyak sekali tulisan yang mengulas sosok jujur dan sederhana Hatta karena beliau menolak beribu tawaran jabatan komisaris perusahaan hingga Bank Dunia atau semasa hidupnya yang tak mampu membeli sepatu Bally. Cerita janji Hatta dulu kala tidak akan menikah jika Indonesia tidak merdeka pun tak kalah pamor banyak diungkap sejarawan atau wartawan. Adapun di biografi yang bersumber langsung dari tangannya, tak ada sedikitpun Hatta menjelaskan dirinya sebagai pribadi yang seperti apa dan tidak banyak kisah pribadinya yang diceritakan. Paling-paling perasaan deg-degan saat akan sidang sarjana dan pasca sarjana. Di ketiga buku, tidak ada Hatta menyebutnya sebagai seorang yang sederhana atau menggiring penilaian pembaca tentang pribadinya. Di buku ketiga, Hatta sedikit sekali menyebutkan perihal istrinya (selain satu foto pernikahan Hatta dan Rahmi pada halaman terakhir) yaitu saat Hatta dan istrinya diperintah untuk menyiapkan pakaian sebelum ditawan ke Bangka saat Belanda menyerang Yogya dan satu lagi saat Hatta dan istri menerima tamu (salah satu pemimpin Negara Indonesia Timur).
Tidak banyak yang mengulas namun mungkin sudah banyak yang mengira Hatta adalah orang yang terstruktur, rapi dan teliti. Membaca trilogi biografi membuat saya bertanya apakah Hatta mempunyai daya ingat yang sangat baik atau apakah ia memiliki buku harian yang isinya catatatan kegiatan sehari-hari. Hatta sangat detil menceritakan aktivitas sehari-hari pada masa tertentu misalnya saat masih belajar di sekolah dasar, saat kuliah di Belanda, saat diasingkan di Banda Neira dan sampai setelah menjadi Wakil Presiden. Selalu disebutkan bagimana membagi waktu sehari-hari, kapan membaca buku, judul buku apa yang dibaca bahkan hingga apa yang dimakan. Sungguh, saya tidak akan bisa mengingat kegiatan sehari-hari dulu saya serinci itu. Sebelum Jong Sumatranen Bond, Hatta mulai belajar organisasi di perkumpulan Sepak Bola yang awalnya menjadi anggota hingga terkenal akan keahliannya menjadi bendahara. Hatta berulang kali mengatakan bagaimana mengatur waktu akademik dan organisasi. Ketelitian Hatta juga terbaca ketika mendeskripsikan sebuah tempat yang pernah ditinggali seperti berapa kamar dan dimana ia biasanya belajar atau bekerja. Hatta seorang yatim sejak kecil dan kemudian merantau sudah beberapa kali pindah tempat tinggal. Yang khas dari beberapa kali Hattta pindah adalah ia selalu menceritakan buku apa saja yang dibawa dan bagaimana buku-buku itu dipindahkan.
Tentulah Hatta adalah seorang pemikir keras, terlihat dari sangat detilnya menjelaskan mulai dari menjelaskan silsilah keluarga dan budaya minang, ajaran agama yang diajarkan ayah gaeknya (sebutan bahasa Minang), pelajaran sekolah yang didapat hingga judul buku-buku dan tulisan yang dibaca. Seorang yang logis, filosofis, dan menjunjung hal-hal yang menurutnya prinsipil. Terlihat saat tulisan Hatta mengenai konsep sistem pemerintahan atau suatu politik, penjelasannya lengkap dari A hingga Z tidak lupa dengan teori-teori dari tokoh terkait ditambah dengan perbandingan dengan sejarah yang serupa.
Jadi teringat, beberapa sumber pernah menyebutkan hubungan tegang terjadi beberapa kali antara Hatta dan Soekarno. Pada buku kedua, Hatta cukup banyak menulis tentang Soekarno. Saya bisa menangkap dengan jelas betapa Hatta tidak setuju (mungkin cenderung tidak suka) dengan beberapa cara pandang Soekarno. Hatta tidak setuju Soekarno menganggapnya pro kepada Belanda ketika terdengar kabar (yang belum pasti benar) bahwa Hatta akan menerima tawaran menjadi anggota Tweede Kamer. Pada waktu itu sedang berselisih antara yang setuju dengan cooperative dan non-cooperative. Soekarno dengan tegas menyatakan menentang cooperative dengan penjajah, sementara Hatta menjelaskan betul bahwa rakyat janganlah bersikap cooperative dengan Pemerintah Hindia Belanda, namun dengan pemerintah Belanda hendaklah kita pandai memilih sikap yang bisa membantu pergerakan Indonesia untuk kemerdekaan. Disebutkan olehnya bahwa Pemerintah Belanda berbeda dengan Pemerintah Hindia Belanda (kolonial), ada banyak bagian seperti partai buruh termasuk di Tweede Kamer ada di dalamnya aspirasi untuk mendorong pergerakan kemerdekaan negara jajahan. Hatta menambahkan betapa geramnya waktu itu karena ia belum menerima tawaran itu dan jika benar ditawarkan belum tentu pula akan diterimanya. Dan waktu itu tawaran itu memang datang dan Hatta pada akhirnya menolaknya.
Cukup banyak yang Hatta kemudian tulis perihal pemahamannya mengenai cooperative dan non-cooperative, tak lupa teori dan contoh-contoh pun dilampirkannya. Satu contoh yang Hatta tulis untuk perbandingan yang tidak bisa disamakan adalah sikap Irlandia kepada Westminster yang waktu itu adalah parlemen untuk Inggris dan Irlandia. Selain itu yang tak disangka-sangka, Hatta menambahkan penilaiannya terhadap sikap Soekarno yang plin-plan mau berkompromi saat dihukum oleh Landraad. Hatta menganggap jika Soekarno ‘saklek’ non-cooperative seharusnya tak akan pernah membantu Volksraad untuk membujuk dr. Tjipto dan kompromi saat dihukum oleh Landraad Bandung. Di buku kedua juga Hatta banyak menceritakan pergerakan kemerdekaan melalui Pendidikan Nasional Indonesia (PNI). Berkali-kali ia menyebutkan bahwa kaderisasi adalah hal yang sangat utama sehingga suatu partai atau pergerakan tetap akan berjalan meskipun ada tokoh yang hilang. Lagi-lagi kritik itu berkaitan dengan Soekarno yang menurutnya pergerakan Partindo menjadi terhenti saat Soekarno ditangkap, hal ini terjadi karena lemahnya kaderisasi.
Pemikiran Hatta terhadap Soekarno yang ditulis sendiri pada biografinya menjadi cerminan bahwa banyak tantangan politik untuk Indonesia merdeka yang berasal dari tokoh-tokoh pergerakan sendiri. Bahkan setelah merdeka, bertambah cerita Hatta perihal beberapa golongan yang ingin mengubah pemerintahan (tidak sesuai konstitusi) hingga waktu itu upaya Hatta menggagalkan rencana coup d‘etat (ditulisnya pada buku ketiga). Tidak banyak lagi cerita Hatta berseteru dengan Soekarno di buku ketiga, sepertinya hubungan keduanya lebih baik setelah bersama-sama berbagi peran menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Hanya Hatta sempat menyebutkan waktu itu alasan Soekarno menikah kembali dengan Fatmawati saat masih bersama Inggit yang cukup membuat saya berpikir heran karena mengapa menceritakan rencana Soekarno menikah lagi hingga begitu detail menuliskan persyaratan dari Inggit sementara Hatta tidak menuliskan cerita saat akhirnya menikah (kecuali foto pernikahan Hatta di halaman terakhir).
Bagian yang saya suka sebenarnya adalah cerita perjalanan Hatta berkeliling Eropa di sela-sela liburan. Melalui bahasa dan narasi Hatta yang cukup baku saya sudah bisa membayangkan seperti apa Eropa jaman dahulu. Masih ingat ceritanya saat berkunjung ke Jerman dan waktu itu Jerman kalah Perang Dunia I, Hatta dirayu untuk menjahit baju oleh si penjahit orang Jerman dan akhirnya terpaksa mengiyakan merasa kasian atau saat ke Denmark dan dua negara lain untuk belajar koperasi lalu kehabisan uang dan dijanjikan akan dikirim uang namun tak kunjung datang. Tak lupa Pergerakan Perhimpunan Indonesia (Indonesia Vereeniging) di Belanda hingga saat Hatta di penjara dan diadili di Belanda. Hatta sungguh seorang pemerhati, banyak yang dituliskan mengenai karakter orang-orang yang ditemui berdasarkan analisanya. Saat Hatta ke Jepang untuk menemani pamannya mengembangkan bisnis pada tahun 1930-an (sebelum masuk perang dunia II), Hatta berkunjung ke beberapa pabrik dan diantara yang disebutkan adalah kebersihan pegawai pabrik Jepang yang mandi saat selesai kerja dan berganti baju saat sampai di pabrik dan saat kembali ke rumah, berbeda dengan di Eropa yang jumlah kamar mandi di pabrik sangat sedikit dan pegawai pabrik mungkin mandi hanya beberapa kali dalam seminggu atau sebulan. Itu salah satu analisa Jepang dan Eropa menurut Hatta, tentu bukan hanya itu yang ditulis, masih banyak lagi termasuk cerita Hatta melihat bagaimana orang-orang Jepang membongkar dan memasang kembali komponen mobil Ford, awal mula bagaimana Jepang kemudian bisa menjadi salah satu produsen mobil terbesar di dunia.
Tentu saya kemudian berpikir bahwa tidak banyak orang Indonesia memiliki kesempatan seperti Hatta bisa sekolah pada masa kolonialisme bahkan mendapatkan beasiswa kuliah di Belanda (meski di beberapa waktu sempat ujian ulang dan harus membayar sendiri). Hatta berasal dari keluarga yang cukup disegani oleh Hindia Belanda (meskipun ayahnya meninggal saat Hatta masih berusia 8 bulan), sehingga waktu itu diberikan kesempatan sekolah di Europeesche Lagere School dan belajar bahasa Belanda, Inggris dan Perancis, ayahnya berasal dari keluarga ulama dan kerabat ibunya banyak yang menjadi saudagar yang cukup berhasil.
Fakta-fakta sejarah dari cerita Hatta yang menarik perhatian saya yang belum saya banyak pelajari (terlebih belum pernah saya dapatkan di pelajaran sejarah sekolah) adalah diantaranya mengenai detailnya peristiwa pengasingan atau penculikan Soekarno dan Hatta (lebih terkenalnya) ke Rengasdengklok saat menjelang proklamasi dan hal itu juga terkait pro kontra kontribusi Jepang terhadap kemerdekaan Indonesia. Di era digital seperti saat ini, mendapatkan informasi fakta sejarah yang pernah ditulis di sebuah buku atau yang ada pada Arsip Nasional (tidak ada di kurikulum sekolah) lebih mudah dibanding saat saya masih duduk dibangku sekolah bahkan hingga kuliah. Sudah banyak yang membahas pro dan kontra kontribusi Jepang terhadap kemerdekaan Indonesia atau ada yang menyebut harapan palsu kemerdekaan dari Jepang. Oleh karena itu, penuturan Hatta di bukunya ini adalah salah satu sumber yang saya dapat percaya. Hatta menyebutkan bahwa ia sangat berhati-hati mengambil sikap terhadap Jepang sejak awal Jepang menduduki Indonesia. Hatta dan Jepang seolah-olah membuat sebuah simbiosis mutualisme karena Jepang memberikan jabatan yang baik kepada Hatta untuk membantunya menghadapi rakyat Indonesia agar koperatif terhadap Jepang dan sebaliknya Hatta menaruh harapan Jepang sesuai janjinya saat menduduki Indonesia akan membantu Indonesia merdeka dari Belanda. Sudah sangat terkenal Deklarasi Koiso di tahun 1944 (Hatta tidak menuliskan di Buku) bahwa Kaisar Jepang menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia. Hatta memang tidak menuliskan perihal Deklarasi Koiso tetapi menceritakan bahwa Hatta bersama kedua tokoh lain diundang ke Jepang dan bertemu dan bersalaman dengan Kaisar Jepang. Sudah menjadi fakta umum bahwa Kaisar Jepang adalah acuan negara dan masyarakat Jepang, Kaisar tidak sembarangan mau bertemu dengan tamu dari negeri lain apalagi menjamu dan bersalaman. Karena itulah, Hatta menjadi yakin dan percaya dengan harapan yang akan diberikan oleh Jepang dan memilih untuk mempersiapkan panitia kemerdekaan sesuai konstitusi negara yang juga sedang disusun. Sementara golongan lain yang lebih banyak disebut dengan nama golongan muda merasa tidak percaya dengan Jepang, hal ini memanglah tidak mengada-ada karena pada kenyataannya di lapangan banyak jenderal-jenderal Jepang yang menjadi semena-mena terhadap rakyat setempat. Golongan muda berpikiran bahwa Jepang tidaklah berbeda dengan Belanda, tidak akan memberi kemerdekaan. Oleh karena itu pada akhirnya Soekarno dan Hatta diasingkan ke Rengasdengklok untuk dipaksa mendeklarasikan kemerdekaan, meskipun pada awalnya Hatta tetap ingin merdeka sesuai dengan keputusan panitia persiapan kemerdekaan. Hingga akhirnya terdengar kabar bahwa Jepang sudah menyerah kepada sekutu, Hatta langsung menemui para pimpinan militer Jepang yang ada di Indonesia untuk deklarasi kemerdekaan namun tidak ada yang berani memberikan hal tersebut karena status kekalahan Jepang terhadap sekutu sehingga Jepang dituntut mempertahankan keadaan (status quo) hingga sekutu tiba di Indonesia. Tidak ada yang Hatta harapkan lagi, sehingga Hatta setuju untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia esok harinya, 17 Agustus 1945.
Terlepas dari kemerdekaan Indonesia yang memang bukanlah hadiah dari Jepang atau benarkah Deklarasi Koiso hanyalah harapan palsu dari Jepang, Jepang memang banyak sekali memberikan bekal militer dan secara tidak langsung membuat Indonesia bisa bertahan merdeka hingga Agresi Militer Belanda II. Hatta menyebutkan bahwa banyak rakyat Indonesia yang berkemampuan militer atau bersenjata yang diwariskan dari tentara Jepang saat itu, termasuk senjata-senjata yang dipakai untuk melawan Inggris dan Belanda setelah merdeka adalah yang diselundupkan oleh tentara Jepang dan diberikan kepada rakyat Indonesia. Bahkan Hatta mengutip salah satu pernyataan rakyat Indonesia di Surabaya bahwa mereka akan menjamin tawanan Jepang akan sehat dan aman sebagaimana tentara Jepang memberlakukan rakyat Indonesia sebelumnya.
Tak ketinggalan, Hatta juga menuturkan hubungan baiknya tokoh-tokoh India baik saat masih di Belanda (pada beberapa konferensi internasional saat Indonesia dan India belum merdeka) dan saat Belanda mencoba kembali menduduki Indonesia setelah Indonesia merdeka. Saat terdengar rencana Belanda akan kembali menyerang Indonesia setelah merdeka, Hatta bertolak ke India untuk meminta dukungan senjata sebagai gantinya Indonesia mengirimkan bantuan beras kepada India, walau pada saat itu India tidak bisa banyak membantu karena status India dan Inggris pun saat itu kembali pada masalah negosiasi. Meskipun begitu Hatta mendapatkan keyakinan dari Nehru dan Gandhi bahwa Belanda akan dikecam dunia dan Dewan Keamanan PBB jika nekat melakukan penyerangan kembali ke Indonesia. Kedua tokoh itu pun berjanji akan mendukung kemerdekaan Indonesia di dunia Internasional.
Sungguh, masih banyak sekali fakta dari Hatta yang sepertinya tidak sanggup dicatat rinci di ulasan ini misalnya seperti kisah penjajahan Belanda saat Hatta masih di Bukittinggi, atau tentang partai komunis di Indonesia dan kaitannya dengan partai komunis di Rusia dan tokoh sosialis di dunia, termasuk juga sistem pendidikan dan sekolah pada zaman kolonial Belanda yang begitu rumit dan sering berganti persyaratan. Senang sekali bisa mengkhatamkan buku trilogi – tulisan langsung dari tangan Hatta ini. Pastinya buku ini masih akan saya baca terus karena pemahaman saya di lain waktu tentang fakta sejarah dan pemikiran Hatta yang ada di dalamnya mungkin akan berubah dan semoga menjadi lebih baik dan lebih mengerti.
Bogor, 10 November 2020
Selamat Hari Pahlawan!