Disclaimer: Tulisan ini bukan bagian dari fanatisme terhadap satu agama dan ras. Tidak ada opini pribadi. Tanggung jawab saya adalah tidak akan pernah menutup mata dan pikiran terhadap fakta sejarah dunia, terlebih yang terkait dengan kemanusiaan dan keadilan. Apalagi tugas saya bertambah sebagai Ibu, tanggung jawab sebagai gerbang awal mula pemahaman yang disampaikan kepada anak khususnya hal sensitif seperti peperangan.
Masih ingat di minggu akhir Ramadhan lalu insiden di kawasan Masjid Al-Aqsha hingga akhirnya gencatan senjata katanya, tapi nyatanya hanya Allah dan manusia di sanalah yang tahu. Pro dan kontra mulai banyak beredar di media berita dan media sosial, tak sedikit yang banyak mengangkat fakta bahwa Palestina-Israel bukan semata masalah agama. Dukungan moralitas untuk Palestina kelihatan bersemarak, haru dan merinding menyaksikannya. Bagi beberapa golongan kekeuh bin persistent kalau Palestina adalah tanggung jawab Agama karena harus satu agama lah yang berkuasa sesuai yang Tuhan janjikan. Yang terakhir terlihat dan terdengar adalah video demostran Israel (membawa bendera Israel) kepada warga Palestina dengan serangkaian tagline dan tak lupa serangan Jet dari Israel sebagai balasan dari balon-balon api Palestina yang menyebabkan kebakaran di 20 titik wilayah Israel. Banyak yang tidak setuju dengan balasan Israel menggempur balik menggunakan Jet tidak setimpal tapi tak sedikit juga berpihak agar Palestina berdamai saja, kirimkan balon tanpa isi api saja lah. Apakah harus begitu?
Bagi yang mengikuti sejarah dulu tahun 1980 intifada I , Palestina menyerang Israel menggunakan batu. Tapi pecinta konspirasi mungkin berdalih menyebutnya hujan batu (teknologi perang hujan batu) dari Palestina (Hamas, lebih tepatnya). Maksudnya adalah, beberapa pihak percaya Hamas bukanlah organisasi biasa, seolah-olah minim modal minim teknologi tetapi bisa bertahan sampai kini dan masih bisa membuat Israel pusing. Bagi simpatisan Hamas, mereka percaya bahwa kekuatan Tuhanlah yang menjadikan minimnya teknologi perang yang dimiliki Hamas bisa melawan canggihnya Israel. Hamas, who are you?
Don’t judge the book by its cover, kata pepatah gitu. Kalau kata saya, don’t judge the book, just don’t. Kalau lihat cover nya, Buku Bawono Kumoro ini terkesan ekstrim, aslinya tidak sama sekali. Buku ini adalah pengembangan dari skripsi Mas Bawono di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri (Syarif Hidayatullah) Jakarta, diapresiasi dan direview oleh beberapa tokoh negara penting seperti Alwi Shihab, mantan Menteri Luar Negeri yang saat buku ini dipublikasi menjabat sebagai Utusan Khusus RI untuk Timur Tengah, Din Syamsudin waktu itu belum jadi Ketua MUI masih sebagai Guru Besar UIN, dan Abdillah Toha dari Komisi I DPR RI. Sumber informasi Mas Bawono adalah dari buku dan jurnal nasional maupun Internasional kajian studi Timur Tengah, buku populer Karen Arsmtrong juga termasuk yang dirujuk oleh penulis. Ditambah informasi dari tulisan yang pernah terbit di media berita nasional. Bahasanya mudah, struktur topik dan alur narasinya rapi, enak sekali membacanya meskipun minim ilustrasi bagan atau sejenisnya. Paket komplit untuk membuka pemahamam sejarah awal Palestina, kaitannya dengan Perang Dunia, Zionisme dan anti-semitisme, latar belakang Hamas hingga kiprahnya sampai saat ini. Untuk buku yang terbit 12 tahun lalu (cetakan pertama di tahun 2009 dan saya beli di Jakarta Festival 2010), informasi di dalamnya masih sangat relevan.
Bagian pertama yang dibahas buku ini adalah Sejarah Palestina berdasarkan penemuan arkeologis dari tahun 8000 SM, bangsa Kan’an yang merupakan suku manusia yang awal mula menempati dan awal mula nama Palestine yang berasal dari salah satu temuan artefak Mesir bertulis PLST, kemudian ditambah huruf N untuk fungsi kata Plural. Tidak dibahas pada buku, (tapi saya tambahkan untuk melengkapi), di sejarah islam, Palestina disebut dengan Syam, dimana Siti Sarah (istri Nabi Ibrahim) melahirkan dan membesarkan Nabi Ishaq yang merupakan ayah dari Ya’qub yang kemudian disebut Bani Israel asal dari kaum Yahudi. Lanjut ke informasi pada buku ini, Palestina dikuasai Romawi sejak abad 2M hingga 7M. Saat itu banyak yahudi dikeluarkan dari sana sehingga mayoritas penduduk adalah nasrani. Berlanjut di abad ke-7 Masehi bertepatan dengan kepemimpinan Rasulullah dilanjutkan Khulafaurrasyidin yaitu Umar Bin Khattab, Palestina dikuasai oleh Persia. Informasi ini pun didukung oleh catatan yang ditulis pada Buku Karen Armstrong, Holy War. Armstrong clearly stated kalau Umar datang ke Jerusalam dengan kuda putih ditemani Uskup Yunani dan mendirikan sholat di seberang gereja Holy Sepulchre. Bagi yang sudah baca buku Holy War, pasti tahu betul bahwa pada saat itu tidak ada penghancuran gereja atau pemaksaan agama dari Umar meskipun sudah dikuasai, masyarakat berbagai agama hidup rukun bahkan hingga saat pemerintahan Bani Umayyah. Konflik memang mulai bermunculan pada peralihan masa pemerintahan Bani Abbasiah dan Fatimiyah namun tidak ada kebiadaban kemanusiaan yang terjadi hinggaa saat terjadinya Perang Salib di abad ke-10 M. Berdasarkan sumber yang dirujuk buku ini (History of Arab, Hitti), saat itu terjadi holocaust besar terhadap umat islam dan yahudi di Palestina oleh pemenang Perang Salib yaitu, Romawi. Tidak sampai satu abad berselang, Palestina berhasil direbut oleh Salahudin Al Ayyubi atau Bani Ayyubiyah. Masyarakat Palestina melanjutkan hidup damai hingga singkatnya 5 abad kemudian ketika kekuasaan berpindah kepada Turki Usmani dan selama 5 abad dibawah pemerintahannya hingga pada akhirnya ketika Turki Usmani terlibat kekalahan poros Jerman pada Perang Dunia I.
Timeline Perang Dunia pasti lah sudah familiar bagi orang banyak. Saya pun selalu membandingkan dengan timeline perang dunia I dan II ketika membaca sejarah apapun. Dan ternyata itulah juga awal mula pintu masuknya eksodus penduduk Yahudi dan Zionis ke Palestina. Turki Usmani yang mendukung Jerman harus kalah Perang di tahun 1918 yang akibatnya negara-negara Arab di bawah kekuasaannya diambil alih oleh Pemenang Perang, Inggris dan Perancis menyepakati Palestina dijadikan sebagai kawasan Internasional. Disebutkan di periode yang sama Inggris pun memberikan dukungan dari komunitas Zionis untuk mendukung negara Zionis hingga di tahun 1920-1945 terjadi eksodus penduduk terbesar di Palestina. Hal ini juga bertepatan dengan upaya penyelamatan diri kaum yahudi dari gerakan anti-semitisme dan holocaust yang mulai dilakukan oleh Nazi di Jerman dan Eropa.
Poin besar kedua pembahasan buku ini adalah sejarah Zionisme yang berkaitan dengan anti-Semitisme atau anti-Jews di Eropa yang membuat kaum zionis ingin mengakhiri dan membalas penderitaan dari holocaust yang dilakukan terhadap mereka dengan mendirikan negara Zionis. Zionisme sendiri berasal dari kata Zion/Sion yang merupakan nama bukit pada Perjanjian Lama kemudian disebut Jerusalem. Lebih detail Mas Bawono melengkapi penindasan Yahudi di beberapa negara Eropa sejak tahun 1880, seperti di Spanyol, Rusia, Kishinev, Jerman, Austria, Prancis. Seperti yang saya sering temukan pada buku yang membahas originalitas kaum Yahudi, ada dua polarisasi dari kaum Yahudi sendiri terhadap gerakan Zionisme. Pertama adalah The Haredim Movement berpandangan bahwa cara Zionisme adalah suatu pemaksaan kehendak Tuhan terhadap Israel sebagai the Promised Land. Sedangkan golongan yang kedua adalah bertentangan dengan The Haredim Movement bahwa Zionisme adalah cara untuk mempromosikan kehidupan Yahudi. Dari golongan kedua inilah kemudian berkembang pemikiran gerakan resmi yang dipelopori oleh Theodore Herzl dengan kekuatan melobi kerja sama dari para pemimpin dunia dan tokoh politik, tidak terkecuali Sultan Turki Usmani Abdul Hamid II, yang akhirnya mendirikan negara Israel di tahun 1948 dengan 56% lebih atau 2/3 dari wilayah Palestina sebelumnya.
Yang menurut saya kurang dibahas oleh penulis adalah penjelasan lebih dalam perihal anti-Semitisme yang dijadikan momok cikal bakal Zionisme. Banyak teori beredar kenapa terjadi anti-Jews di Eropa, namun hingga kini saya masih belum menemukan teori yang cocok dengan fakta sejarah yang terjadi. Jika merujuk pada kampanye dan politisasi anti-Semitisme yang dilakukan Nazi di Jerman adalah karena teori atau konsep originalitas keturunan Bangsa selain Bangsa Arya dianggap berpotensi melahirkan keturunan yang buruk dan merugikan Negara, gerakan penindasan yang dilakukan Nazi di Jerman seperti pengasingan warga berkulit hitam atau yang beragama Yahudi atau membunuh bayi dan anak yang memiliki kelainan penyakit atau genetik. Jika Yahudi sama halnya dengan kaum kulit hitam di Eropa yang bukan bangsa keturunan Arya, hal ini kurang pas dengan pernyataan Hitler ketika menyatakan bahwa ia menyisakan beberapa kaum Yahudi dari holocaust agar dunia tau bagaimana mengerikan kaum Yahudi itu. Jujur saya masih penasaran dengan teori atau konspirasi antara anti-Semitisme dan Zionis sesungguhnya adalah sebuah simbiosis mutualisme yang Zionis sendiri berkontribusi memingkatnya isu-isu anti-Semitisme agar cepat tercapai tujuan Zionisme. Well, anti-Semitisme ini adalah wishlist to read saya selanjutnya.
Masuk pada inti dari inti buku ini yang jarang sekali diangkat yaitu tentang Harokat Al-Muqowwama Al-Islamiya alias organisasi Hamas. Sebelum Hamas lahir di Palestina, tercatat sejak terjadi eksodus penduduk Yahudi ke Palestina banyak perlawanan yang terjadi termasuk pemogokan massal warga Palestina sebagai bentuk protes kepada Inggris di tahun 1936. Imbas dari pemogokan itu adalah Inggris memberlakukan White Paper yang menjanjikan negara yang merdeka dan mengatur pembagian atau transfer penduduk yahudi dan transfer tanah, serta jaminan bahwa eksodus penduduk Yahudi ke Palestina dibatasi hingga 75ribu dalam lima tahun ke depan. Selain dari dalam Palestina, konflik pun terjadi antar negara-negara Arab dan Israel sejak sebelum tahun 1947 sampai setelah tahun 1948 bahkan hingga menjelang tahun 2000, negara-negara Arab tersebut tidak sedikit memgalami kerugian. Karena kondiri geografis, negara-negara Arab sesungguhnya adalah yang terkena dampak negatif ketika Palestina dikuasai. Misalnya saja perang yang pernah terjadi untuk memperebutkan Terusan Suez di tahub 1950-an. Tidak disebutkan dalam buku, tapi saya jadi teringat potongan sejarah yang ada pada serial film The Crown, Konflik Terusan Suez ini adalah masalah besar pertama yang dihadapi Queen Elizabeth dan menjadi akhir dari karir PM Anthony Eden. Negara Arab khususnya Mesir pada awalnya optimis dapat mengambil alih Terusan Suez dari Inggris dan Perancis, namun kemudian dikalahkan karena invasi besar dari Israel.
Diketahui hingga tahun 2000 kekalahan dan kerugian dialami oleh negara-negara Arab yang berkonflik menentang Israel mengakibatkan munculnya gerakan perlawanan dari masyarakat Palestina sendiri yang terbagi menjadi dua kubu yaitu kumpulan pergerakan yang mau cooperative dengan PBB dan Israel dan yang hanya menginginkan satu yaitu Israel hengkang dan Palestina merdeka. Kubu cooperative tergabung dalam Palestine Liberation Organization (PLO) yang merupakan hasil dari muktamar tahun 1964. Tujuan utama PLO yaitu mempersiapkan pembebasan Palestina dan menuntut untuk menentukan nasibnya sendiri sebagai sebuah negara. Beberapa pergerakan atau faksi yang tergabung dalam PLO adalah Harokah Attahrir Al-Filistin (faksi terbesar yang terkenal dengan nama Fatah), PFLP, PDFLP, Arab Liberation Front (ALF) berhaluan sosialis, Faksi berhaluan komunis, Faksi sayap kiri dan Faksi Militer. Adapun kubu non-cooperative pada awalnya adalah hanya kelompok kecil pemuda yang melakukan gerilya bawah tanah melawan Israel yang kemudian diketahui salah satunya yang terbesar adalah Hamas. Menurut penulis, tidak ditemukan informasi kapan tepatnta Hamas didirikan, namun buku ini menceritakan lengkap bahwa Ikhwanul Muslimin (organisasi Islam Pan-Arab utama dan terbesar di Mesir) adalah cikal bakal dari Hamas. Ikhwanuls Muslimin berkontribusi bersama dengan PLO melawan Israel yang pada tahun 1967 melakukan perluasan wilayah hingga Tepi Barat, Jalur Gaza, Golan dan Semenanjung Sinai. Perang berkecamuk kemudian di tahun 1973 yang ditandai dengan embargo negara-negara Arab yang membuat harga minyak melambung sangat tinggi hingga Israel kalah dan mengembalikan wilayah yang sempat dikuasai sepihak. Adapun sejak tahun 1976, Ikhwanul Muslimin di Palestina menarik diri dari militer dan fokus pada kaderisasi namun tak lama berselang yaitu tahun 1981 Ikwanul Muslimin kembali ke militer karena kecewa terhadap berubahnya sikap PLO yang (waktu itu ketuanya adalah Yasser Arafat) yang mengeyampingkan tujuan dan nilai islam hingga kemudian terjadilah Intifada Palestina I yang saya sempat sebutkan diawal tulisan.
Hamas menjadi organisasi yang dikhawatirkan oleh Israel dan sekutunya (sebut saja Amerika salah satunya) sejak kepersertaan dan kemenanangan Hamas pada Pemilu legislatif Palestina tahun 2006. Singkat cerita setelah on off serangan yang terjadi antara Palestina dan Israel setelah Intifada I, dibuatlah Kesepakatan Oslo (Oslo I tahun 1993 dan Oslo II tahun 1995) yang isinya komitmen menghentikan kekerasan perlawanan dari pihak PLO-Palestina dan Israel serta dibentuk pemerintahan otorisasi Palestina di kawasan Tepi Barat dan Jalur Gaza. Palestinian National Authority (PNA) dan Palestinian Legislative Council (PLA) yang pemilihannya kemudian dilakikan di tahun 1996 dipandang Hamas sebagai hasil keputusan Oslo dan bentuk cooperative sehingga Hamas abstain dari Pemilu dan organisasi pemerintahan Palestina berdasarkan Pemilu yang dimenangkan oleh Fatah dengan Yasser Arafat sebagai Presiden (PNA). Bagi Hamas, pemberian daerah otoritas di Gaza dan Tepi Barat dan membiarkan Israel masih di Palestina bukanlah tujuan Hamas dan rakyat Palestina. Pemilu selanjutnya seharusnya diadakan lima tahun setelahnya yaitu tahun 2001 namun diundur hingga ke tahun 2005 karena pada tahun 2000 terjadi Intifada II yang didahului oleh kunjungan PM Israel Ariel Sharon dan puluhan Polisi Israel ke Masjid Al-Aqsha. Penulis mensinyalir dari sumber informasi tertentu bahwa Intifada II ini adalah awal mula Hamas menggencarkan serangan bom bunuh diri. Satu tahun sebelum Pemilu, Yasser Arafat wafat pada tahun 2004 dan Mahmoud Abbas menjadi pemenang Pemilu Presiden dari Fattah. Sementara yang mengejutkan dunia adalah Hamas menang di pemilihan legislatif pada kali pertamamya ikut pemilu dengan perolehan 74 kursi sementara Fatah (rival terberat Hamas) hanya menang 45 kursi. Alasan kemenangan Hamas dari peserta Pemilu adalah isu korupsi yang mulai banyak dilakukan oleh Fatah dan ketakutan rakyat Palestina terhadap campur tangan Amerika seperti yang dilakukan terhadap Afganistan dan Irak ataupun komfrontasi Suriah dan Iran, terlebih setelah terjadinya peristiwa di WTC Tahun 2001. Salah satu tim pemantau Pemilu asing, Jimmy Carter, menyebutkan bahwa Pemilu Palestina (PLC) tahun 2005 berlangsung bersih, transparan, bebas, demokratis dan damai. Dari sini Hamas dinyatakan sebagai pemenang Pemilu dengan Ismail Haniyya sebagai Perdana Menteri. Hamas menawarkan opsi kabinet kepada Fatah, namun Fatah enggan dan menolak tawaran tersebut (Presiden Mahmoud Abbas tetap dari Fatah).
Berdasarkan sumber yang dirujuk penulis, sejak saat itu terlihat geliat pihak yang tidak suka dengan Kemenangan Hamas, yang paling terlihat adalah Israel dan Amerika sebutnya. Hamas kemudian mulai disorot media asing sebagai organisasi teroris yang terkenal dengan bom bunuh diri, berita media asing tentang bom bunuh diri tidak sepadan dengan fakta penindasan pembunuhan warga sipil Palestina oleh Israel yang tidak pernah diberitakan media. Tidak hanya itu, adu domba Hamas dengan Fatah pun masuk dalam agenda Israel sehingga tidak sedikit konflik yang bermunculan terjadi adalah antara rakyat Palestina sendiri yaitu Hamas dan Fatah. Puncaknya adalah imbas secara ekonomi dari tekanan Israel dan Amerika melalui pemotongan jalur ekspor dan aliran dana ke pemerintahan Palestina. Amerika menyatakan menarik kembali bantuan (pinjaman?) sebesar 60 juta dolar AS dan diperparah dengan Israel yang dengan sengaja membekukan transfer dana rutin bulanan yamg merupakan pungutan pajak barang impor sebesar sekitar 50 juta dolar AS. Alokasi dana tersebut adalah untuk membayar gaji sekitar 140.000 pegawai pemerintahan Palestina, alhasil krisis keuangan dan ekonomi di Palestina pada masa pemerintahan Hamas tak terelakan lagi.
Menghadapi krisis di Palestina, Hamas-Palestina banyak minta bantuan dari negara lain termasuk Indonesia saat itu dan khususnya negara-negara Arab. Meskipun banyak negara yang ingin membantu namun sulit untuk menembus akses ke Palestina karena status embargo yang diberlakukan, sementara kelaparan dan kemiskinan rakyat Palestina terus bertambah diperparah dengan keruhnya situasi politik di dalam antara Hamas dan Fatah. Pada 8 Februari 2007, Arab Saudi pada masa Raja Abdullah saat itu, berhasil menjadi mediator mengajak Hamas dan Fatah untuk menghadiri dan menyetujui Deklarasi Makkah. Isinya diantaranya adalah kesepakatan Hamas dan Fatah untuk menerima satu sama lain dan bersinergi dalam pemerintahan termasuk untuk negosiasi agar embargo ekonomi dapat dihentikan. Deklarasi Mekkah ini dianggap sebagai pengakuan resmi kegagalan Hamas dalam pemerintahan meskipun banyak pihak yang optimis mediasi Arab Saudi dapat memberikan titik terang bagi keadaan krisis Palestina. Namun kenyataannya tidak sampai setahun dari pelaksanaan Deklarasi Mekkah, Hamas dan Fatah masih terus berselisih ditambah bantuan ekonomi dari negara Arab yang tak kunjung didapatkan termasuk dari Arab Saudi, pada 20 Juni 2007 secara sepihak Presiden Mahmoud Abbas menyatakan status genting untuk Palestina dan membuat kabinet darurat dengan Perdana Menteri Salam Fayyad yang bukan dari Hamas. Keputusan Abbas tersebut disambut baik oleh Israel dan Amerika dengan langsung dicabutnya embargo ekonomi dan PM Israel Ehud Olmert menyatakan segera mencairkan dana yang sebelumya dibekukan sebesar 800 juta dolar AS. Meskipun begitu, pencabutan embargo ekonomi Palestina tidak berlaku di Jalur Gaza, isolasi Jaluz Gaza justru semakin diperketat.
Hal itulah yang terjadi hingga saat ini meskipun keadaan yang diceritakan buku ini hanya sampai di tahun 2008. Saya tambahkan dari sumber media berita, sampai tahun ini setelah 15 tahun setelah Pemilu yang dimenangkan Hamas belum ada lagi Pemilu Palestina walaupun di awal tahun 2021 Presiden Mahmoud Abbas merencanakan Pemilihan Umum Palestina. Banyak pihak yang pesimis dengan rencana Pemilu dan khawatir kejadian yang sama di tahun 2006 silam akan terulang kembali. Opini pemerhati politik internasional menyebutkan untuk menyudahi konflik Palestina ini adalah Hamas mengakui eksistensi Israel di Palestina. Pengakuan Hamas ini pun juga dianggap akan menjadi tes bagi Israel apakah setelah diakui akan berhenti melakukan penindasan dan perluasan wilayah. Opini lain berkata bahwa Israel tidak akan sepenuhnya percaya dengan Hamas sehingga kemungkinan besar tidak akan berhenti menjadikan Hamas dipandang sebagai organisasi teroris.
Tulisan ini adalah yang terpanjang saya menulis review buku, lebih tepatnya adalah review dan resume isi buku. Selain kurangnya penjelasan anti-Semitisme pada buku ini, selebihnya Mas Bawono sudah cukup komprehensif menjelaskan ditambah dengan tata bahasa mudah dan struktur ide paragraf yang rapi meskipun pada bab pembahasan Hamas ada beberapa narasi yang berulang-ulang menjelaskan maksud yang sama dengan narasi sebelumnya di halaman sebelumnya. Tambahan paket komplit dari buku ini namun bisa berpotensi redundant adalah penulis memberikan highlight isi buku pada mukaddimah dan penutup, bagi yang malas membaca detail cukup bisa membaca dua hal di depan dan di belakang atau jika nanti lupa sesuatu dan ingin memastikan di buku ini bisa mulai dengan membaca mukaddimah dan penutup hehe. Pada bagian akhir buku tepatnya di lampiran, ditulis lengkap profil Hamas mulai dari gambar dan filosofi logo hamas sampai Maklumat Perdana Hamas dan Piagam Hamas yang bersumber dari Buku terbitan Washington DC: Institute of Palestine Studies. Bagi yang mau mendalami profil Hamas, lampiran yang detail ini cukup bermanfaat dibaca. Bagi saya ada tambahan untuk wishlist to read (selain tentang anti-Semitisme) yaitu perihal isu Nuklir di negara Iran yang pada buku ini disebutkan sama-sama sebagai motif dibalik Agenda Israel dan Amerika melakukan campur tangan di negara Timur Tengah.

