Aku hanya ingin mendengarkan diriku sendiri.
Memilah mana kata hati dan mana kata orang.
Memberi jeda untuk melihat masalah dengan lebih jelas.
Membangun ruang yang lebih besar agar bisa menampung luapan perasaanku yang terbendung selama ini, perasaan-perasaan yang tak kukenali, tapi memengaruhi sebagian besar hidupku.
Meluaskan cara pandangku terhadap dunia yang terasa begitu sempit selama ini.
Aku hanya ingin mengambil jeda untuk meredakan kebisingan.
Duduk, diam dan mendengarkan.
Jenuh, sedih, kesal, kadang menyesal, kecewa, marah, lelah. Emosi negatif yang katanya manusiawi tapi menyita hati dan pikiran. Masing-masing pasti punya cara rahasia untuk menyikapi letupan hal yang tidak enak bagi hati. Kalau menurut teori abal-abal namun masuk akal yang pernah kutorehkan, pada dasarnya manusia itu terbagi dua: penikmat prosa dan puisi dan yang bukan. Saya sendiri merasa salah satu dari golongan yang pertama dan berharap bisa terus bisa menikmati prosa dan puisi. Bahkan saya iri pada penggiat sastra, penulis puisi, penulis cerita yang bisa menikmati masalah hidup lewat tulisannya. Setiap detik dirinya merasa kesal adalah inspirasi sebuah karya.
Sebut saja beberapa minggu lalu, sibuk bongkar rak buku di rumah, tak ada yang sesuai hati. Kubukalah aplikasi Buku Google atau Google Book dan kucari beberapa pengarang puisi Indonesia dan sampai juga untuk mencari nama penulis buku satu ini. Meski baru satu bukunya yang saya baca lima tahun lalu, saya cukup tertarik dengan karakter Kurniawan Gunadi dalam narasinya yang berhalaman-halaman. Entah sudah berapa bukunya yang saya lewatkan di lima tahun terakhir hingga bertemu dengan tulisan terbarunya ini “Bising”. Tulisan puisi di sampul belakang bukunya langsung pas sekali dengan atmosfir sekeliling saat ini, langsunglah buku ini digenggaman maya dan selesai dalam satu malam.
Saya mulai membaca buku ini tanpa baca ulasan apapun. Halaman-halaman pertama buku ini membuat saya sempat berspekulasi apakah buku ini tentang curhatannya menghadapi masalah berkeluarga setelah menikah, karena kalau iya saya merasa judul buku dan puisi sambul belakang tadi menipu sekali. Untungnya tidak! Buku ini adalah kompilasi narasi pendek dari berbagai sudut pandang dengan masalah yang berbeda. Salah satu dari jutaan masalah hidup yang diderita oleh ribuan pembacanya pasti salah satunya ada di dalam buku ini. Waah hebat sekali si penulis.
Gaya tutur Kurniawan Gunadi masih sama dengan satu bukunya yang pernah ku baca. Seperti seseorang yang sedang berbicara kepada dirinya sendiri dengan diksi yang presisi membentuk kalimat yang dapat menghipnotis. Buku-buku karyanya adalah tipe buku bahasa Indonesia yang tak lekang oleh waktu. Akan masih asik dibaca sewaktu-waktu di lain waktu.