MasyaAllah!
Entah berapa banyak ungkapan ‘MasyaAllah’ yang terucap selama baca buku ini. Mengarungi Samudera Al-Fatihah, authornya adalah Jurnalis Tempo kalau dicek LinkedIn beliau sekarang Director di Tempo Institute. Terbayang betapa Pak Qaris Tajudin ini adalah tipe pemerhati, logis, filosofis dan pratikal. Buku ini saya beli bukan di toko buku, baru sekarang baca buku dari Kukuruyuk Publishing, saya tahu dan beli buku ini dari satu mutual friend yang dulu berkarir di Tempo juga. Beliau ini lulusan Al-Azhar-Kairo, jadi pemahaman tafsir dan runutan sumber yang diambil pun tidak kaleng-kaleng meski sangat ringan.
Berawal dari ceritanya sebagai jurnalis yang pernah hampir mati dicurigai War Lord di Afghanistan dan merasa bahwa dengan kefasihan dan lancarnya melafalkan Al-fatihah pun tak mampu membuat yakin bahwa dia muslim alih-alih jadi inspirasi untuk mendalami makna Al-fatihah. Saya pun kagum dengan beberapa sumber yang dibahas adalah berdasarkan dari khutbah sholat jumat (tentunya disebutkan pula sumber asli nya), inspiring sekali bagi bapack-bapack jamaah soljum yang sangat memperhatikan isi khutbah bahkan bisa menulis apa yang disampaikan dan juga sebaliknya khotibnya pun inspiring karena terus berinovasi walau nilai maksud nasihat agama yang disampaikan sama, namun disampaikan dengan presentasi dan tambahan ilmu-ilmu baru.
Buku ini ringan tapi sangat padat penuh ilmu dan filsuf, tidak mubazir. Hanya butuh dua kali shubuh, buku ini selesai dibaca itupun dengan penghayatan (bahkan bisa saja satu shubuh jika anakku tidak bangun terlalu pagi). Yang dibahas adalah ayat demi ayat, jadi ada sekitar tujuh bagian dan tambahan satu bagian yang isinya pengantar sumber-sumber yang menginspirasi penulis. Yang banyak diulang-ulang di dalamnya adalah pengingat sifat Arrohman Arrohim Allah yang ada pada awal surat Al-fatihah.
Ada banyak ilmu yang bisa di-highlight namun rasanya sulit membuat resume nya karena saking padat dan tidak mubazir kalimat, semua pada buku ini adalah hightlight. Agar tidak lupa, adalah 7 poin tafsir dari buku yang ditulis oleh ahli agama, kedokteran dan beberapa bidan lain yaitu Fakhruraddin Ar-Razi (kelahiran Iran). Ini adalah ilmu yang juga disampaikan oleh khotib sholat jumat yang dicatat di buku kecil (smartphone) penulis dan akhirnya ia tulis di buku karyanya. Ar-Razi mengungkapkan bahwa al-fatihah adalah kunci dari 7 pintu: ayat 1 adalah pintu pengingat akan kasih sayang Allah dan selalu dibaca di semua kegiatan umat islam, ayat 2 adalah pintu terima kasih (mudah ditebak) karena diawali dengan memuji Allah atas segala semesta alam yang diciptakanNya, ayat 3 adalah pintu karunia (bukan pintu kasih sayang saja), ayat 4 adalah pintu ketakutan untuk hari pembalasan, ayat 5 adalah pintu permohonan, ayat 6 adalah pintu pengharapan karena berada di jalan yang lurus bukanlah sebuah proses sendirian melainkan dengan hidayah atau pengharapan yang diberikan oleh Allah, ayat 7 adalah pintu kebersamaan (cukup unik dan out of the box) karena manusia butuh manusia lain untuk saling mengingatkan agar berada di jalan lurus.
Jumuah Mubarak!
