ULASAN BUKU: Gagalnya Sistem Kanal – Pengendalian Banjir dari Masa ke Masa
Akhirnya wishlist sejak Desember 2019, berhasil dibaca di tangan dan tidak sia-sia, membaca buku ini memuaskan sekali meski yaa tetap ada hal-hal yang masih membuat bertanya. Terima kasih Perpustakaan Nasional yang masih punya buku ini ketika di mana mana saya mau beli tidak ada yang menjualnya. Walau di Perpusnas pun stok bukunya sedikit dan sulit untuk dipinjam pulang, semoga segera ditambahkan ya.

Buku terbitan tahun 2010 yang banyak berseliweran direkomendasikan oleh banyak influencer ini ternyata saduran dari sebuah disertasi “Kala Air Tidak Lagi Menjadi Sahabat: Banjir dan Pengendaliannya di Jakarta 1911 – 1985”, tentunya karya sang penulis Bapak Restu Gunawan. Setelah membaca dan merekomendasikan buku ini, banyak yang berpendapat memang harus ada upaya non-kanal untuk menanggulangi banjir langganan Jakarta. Yang belum setuju dengan upaya resapan air yang dilakukan Pak Gub ARB, katanya boleh baca buku ini dahulu agar pemahamannya lebih komprehensif. Hal lain yang membuat saya penasaran adalah tokoh-tokoh sejarah kemerdekaan dan pemerintah Jaman Soekarno Hatta tidak banyak yang membahas hal-hal praktik berkaitan dengan tata kota pemerintahan termasuk banjir. Idealis kritik sistem pemerintahan dari tokoh nasional banyak sekali dapat ditemukan tapi tidak dengan hal-hal penanggulan sustainability issue seperti tata kota dan masalahnya seperti banjir.
So what’s the special insight inside the book?
Dengan hampir 400 halaman, buku ini terbagi menjadi setidaknya enam bagian. Bagian satu menceritakan siklus fisiografi Jakarta sebagai dataran rendah yang memiliki risiko banjir, dari isinya sudah cukup mewakili hal scientific kenapa secara natural Jakarta memang berbakat untuk kebanjiran seperti dataran rendah, luapan letusan gunung, endapan sungai, angina dan iklim dan lain lain.
Pembaca agak dibuat lupa dengan topik banjir Jakarta di bagian kedua ini, karena isinya membahas sejarah perkembangan spasial dan perebutan ruang kota. Saya pribadi suka sih, ini mahal banget informasinya yang bersumber dari sumber yang cukup sulit ditemui. Plotnya maju mundur, membahas dari zaman kerajaan sebelum VOC atau bahkan Portugis pertama tiba di Nusantara. Di sini belum banyak atau bahkan belum ada isu diangkat terkait banjir Jakarta.
Nah bagian ketiga mengupas tuntas kaleidoskop banjir besar Jakarta yang mulai terjadi sejak 1893 hingga tahun 1980an. Sumber yang dikutip di sini hampir semua dari surat kabar, Sin Po, Sinar Harapan, Antara, Kompas dan lainnya. Di bagian ini juga disebutkan beberapa fakta terkait fisiografi Jakarta yang dibahas di bab pertama misalnya seperti Jakarta yang dulunya dijuluki Venesia dari Timur yang semakin tahun sungainya banyak menghilang, sungai sungai kecil yang dulu banyak di daerah Jakarta Pusat (sekarang). Bagaimanapun saya menikmati narasi di bagian ini hanya antara tahun 1893 hingga 1930an, karena informasi yang dibahas pada tahun 1950an di sini seperti kurang analisis, malah hanya seperti berisi tragedi banjir besar, dana pemerintah yang dikeluarkan dan aksi filantropis warga. Analisis penyebab banjir yang saya temukan di banjir besar setelah tahun 1950 an adalah curah hujan, banjir kiriman dan anehnya lagi di tahun 1970an (kalau tidak salah) disebutkan penyebabnya salah musim. Hmm maksudnya adalah bergesernya musim penghujan atau hujan besar dan penyebab banjir hadir di bulan bulan tidak biasanya ketika tidak dilakukan lagi upaya persiapan antisipasi banjir. Penulis juga tidak menambahkan point of view, kritik atau komentar lainnya di sini selain dari fokus pemerintah di tahun 1950 untuk pembangunan besar-besaran. Ya sebenarnya sudah cukup menjelaskan sih ya dari satu statement itu, tetapi penulis lebih memilih tidak menjelaskan efek pembangunan besar yang berdampak pada banjir. Contohnya, banjir besar yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya setelah ada penggalian pasir untuk tol Jagorawi. Dari beberapa dekade yang disebutkan, siklus banjir besar Jakarta memang seringnya terjadi di bulan Januari atau Februari dengan perkembangan durasi berbeda-beda. Sebelum ada upaya pembuatan waduk misalnya, banjir bisa saja berlangsung hingga satu bulan. Walaupun setelah ada waduk Pluit, banjir besar masih terjadi. Menariknya di sini pun disebutkan area Jakarta yang terkena banjir besar dengan cukup detail. Daerah sekitar Sungai Krukut atau Cideng sudah tidak asing lagi karena selalu ada disebutkan di peristiwa banjir hampir di setiap tahunnya, hanya semakin menuju ke tahun 1970 ke atas banjir besar jadi sering terjadi di selatan Jakarta seperti Pasar Minggu dan perbatasan Tangerang seperti Ciledug atau Bintaro sekitarnya. Dari narasi yang paling panjang di bagian ketiga ini, disebutkan juga saat banjir besar yang terjadi di Jakarta yang berbarengan dengan banjir besar di pulau Jawa dan luar pulau Jawa.
Lanjut ke bagian empat dan lima yang merupakan inti dari buku ini, yaitu pengendalian banjir di tahun 1911 – 1965 dan tahun 1965 – 1985. Pada masa kolonial seperti dari tahun 1913 hingga 1930, upaya yang dilakukan banyak ke arah preventif banjir di tahun mendatang seperti melakukan pengerukan tumpukan sedimentasi dan pengaliran air dari sampah dan limbah yang menumpuk dan pembuatan kanal antar sungai seperti kanal banjir Kali Malang, Pintu Air Matraman dan Karet. Pada saat itu masalah yang dihadapi adalah keterbatasan dana yang dimiliki dan semua anggaran maupun pelaksana adalah berasal dari Kota Praja. Pada masa ini sebenarnya sudah ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa banjir kiriman terjadi karena faktor meluasnya area perkebunan teh yang ada di Buitenzorg dan Puncak, namun tidak ditemukan pada buku ini upaya Kota Praja di bawah kolonial untuk preventif salah satu faktor banjir kiriman tersebut.
Adapun program penanggulangan banjir di periode 1965 – 1985 dilakukan oleh Komando Proyek Pencegahan Banjir (KOPRO BANJIR), sementara Pemerintah Daerah DKI Jakarta ditugasi proyek mikro seperti penggusuran warga sekitar kanal atau waduk dan penggalian tumpukan sedimentasi. Dalam kurun waktu tersebut, waduk dalam kota berhasil dibuat. Bersama konsultan luar negeri berhasil merealisasikan kanal banjir dengan sistem tapal kuda yaitu air dari hulu ditangkap oleh kanal yang melingkar setengah lingkaran di luar kota. Oleh karena itu, diperlukan kanal banjir barat dan kanal banjir timur. Faktanya kanal banjir barat sudah digagas oleh Herman Van Breen di tahun 1923, jadi pembangunan lanal di tahun 1973 ini sebenarnya sudah ketinggalan 50 tahun. Lebih lagi, pembangunan banjir kanal timur baru dimulai pada tahun 2006 atau 30 tahun kemudian dikarenakan kendala dana dan kendala sosial seperti pembebasan lahan dan sebagainya. Berdasarkan fakta banjir besar yang masih terjadi, sistem kanal dan polder (tanah rendah untuk menampung air) dan waduk penampungan yang sudah ada tidak mampu membebaskan Jakarta dari banjir. Hal ini dikarenakan topografi Jakarta yang datar yang mengakibatkan air tidak bisa mengalir secara gravitasi, selain sedimentasi lumpur dan sampah yang membuat aliran air tidak lancar. Upaya normalisasi sungai dari lumpur dan sampah hanya bisa mendukung kanal dan waduk untuk menampung beban banjir sementara, namun tidak bsa menahan arus banjir kiriman yang begitu besar. Terlebih daerah yang menjadi polder sudah dipenuhi penduduk.
Akar masalah banjir yang gagal ditanggulangi oleh kanal-kanal banjir yang disinggung oleh penulis di buku ini adalah minimnya infiltrasi air ke dalam tanah. Tentu hal ini berkaitan dengan histori AMDAL pembangunan Kota Jakarta dan pembangunan bangunan di daerah hulu Jakarta sepert Depok dan Bogor. Jika penggundulan hutan untuk perluasan lahan perkebunan teh pada masa kolonial saja menjadi faktor kurangnya infiltrasi dan mengakibatkan banjir kiriman ke Jakarta, apalagi saat ini ketika wilayah Depok, Bogor, Puncak sudah padat pemukiman dan bangunan.
Sebagai salah satu penduduk yang tinggal di wilayah hulu, saya ingin partisipasi lebih banyak untuk meningkatkan potensi infiltrasi air ke dalam tanah. Semoga lebih banyak lagi pengusaha properti yang peduli ke upaya infiltrasi terutama program pemerintah pusat dan daerah untuk strict terhadap regulasi AMDAL dan upaya peningkatan infiltrasi tanah yang lebih baik.
-Ditulis dari rumah di pinggiran Buitenzorg yang dulunya lahan hutan dan perkebunan buah Jambu, 26 Desember 2021