
-

personal documentation Kawaguchi shi -

personal documentation VISA Stamps -
Ini adalah salah satu hadiah dari seorang teman. Terima kasih Nurina Hegar.
Masih ingat sekali di ulang tahunku tahun 2014, Hegar pernah bilang ada buku untukku. Tapi dari sekian beberapa kali pertemuan (well said, jarang ketemu sih), bukunya selalu tidak sempat diserahterimakan. Akhirnya baru sampai di tangan ketika ulang tahun Hegar di tahun 2015, Desember kemarin.
Cukup lama juga buku ini bertengger di rak buku. Akhir-akhir ini agak sulit membaca buku genre cerita dan novel. Mungkin masih sedang dalam tahap drama syndrome. Finally, minggu lalu selesai juga nih buku dibaca. Ada untungnya juga merasa tiba-tiba kepengen nonton teater tapi cari jadwal acara di TIM, nggak nemu ada suatu agenda pun walhasil Buku Novel Rindu-Tere Liye pemberian Hegar lah obatnya.
Mengikuti cerita-cerita guratan Tere Liye ini sudah kulakoni sejak SMA, novel single maupun novelnya yang berseri. Jangan heran aku pernah bertemu sang penulis langsung, tak begitu ingat di acara apa yang pasti waktu itu sedang pameran kumpulan karya-karyanya. Tapi masih ingat, mas Tere Liye melontarkan pertanyaan bagaimana pendapatku tentang karya-karyanya, aku jawab enteng saja bahwa semakin lama novelnya Mas Tere Liye ini semakin menarik ceritanya dan bahasanya semakin lugas, mengalir dan mudah dicerna. Dari apa yang aku jawab itu, Mas Tere Liye menjulukiku ‘sang kritikus novel’ haha. Tapi apa yang aku lontarkan saat itu memang apa adanya, bukan kritik. Jika pernah membaca bukunya yang pertama berjudul “Moga Bunda Disayang Allah” hingga waktu itu buku paling updatenya adalah Novel Trilogi Serial Anak-Anak Mamak, pasti setuju dengan pendapat yang terlontar waktu itu.
Well, aku bukan fans Tere Liye kok. Tapi cerita-ceritanya memang segar, down to earth, tidak drama, menyentuh kehidupan anak-anak dan yang tak kalah penting adalah hampir selalu mengangkat fakta-fakta budaya dunia dan Indonesia sehingga membaca buku-bukunya tidak hanya punya fantasi semata tetapi juga penuh akan pengetahuan yang bermanfaat.
Seperti Novel Rindu ini, isinya sederhana sekali menceritakan perjalanan sebuah kapal Blitar Holland pada masa penjajahan kolonial Belanda. Cerita mengenai si kapal ini tepat sekali dengan cerita almarhumah nenek dulu. Jamaah haji zaman penjajahan dulu harus naik kapal selama beberapa bulan, dan Blitar Holland ini salah satunya. Yang diceritakan di buku ini, kapal Blitar Holland sebenarnya adalah kapal yang mengangkut hasil bumi Indonesia menuju bumi Netherland alias Belanda Negeri Kincir. Nah rupanya sama seperti rute penerbangan saat ini Garuda Indonesia rute Jakarta ke Jeddah atau Jakarta ke Amsterdam, kapal Blitar Holland ini melalui jalur laut melewati perairan Sumatera, Colombo, lautan negeri Timur Tengah baru ke Eropa. Yang berbeda adalah kapal Blitar Holland ini bermula berangkat dari pantai lepas Makassar di Sulawesi. Oleh karena itu, si kapal Blitar Holland ini dimanfaatkan dan diperbolehkan bisa mengangkut ratusan jamaah haji Nusantara berangkat haji.
Selama membaca buku ini, pikiranku diajak berkhayal menjadi seorang pelaut, hebat deh pokoknya! Selama ini hanya menyebut semboyan nenek moyangku seorang pelaut, padahal belajar rasi bintang saja hanya untuk menjawab pertanyaan ujian saat SD, mana bisa membedakan angin laut dan angin darat, bahkan berlama lama di perahu bisa membuat mabuk laut huhuhuhu tidak dapat warisan dari nenek moyang. Untuk seseorang yang tidak terlalu dekat dengan kehidupan laut dan belum pernah ikut cruise, buku ini sangat-sangat exciting. Banyak sekali pesan moral, spiritual, akhlak, parenting, toleransi, nasionalisme, arti perjuangan, menjadi legam untuk bertahan hidup, cerita lika liku orang-orang yang hidup saat zaman kolonial Belanda berkaitan dengan Perang Dunia kedua, pergerakan penyebaran agama islam, hingga petuah-petuah untuk orang yang sedang patah hati.
Kalau suka membaca, boleh banget lah buku ini dibaca. Cukup tebal tapi selesai kok dihabiskan di malam minggu seperti ini hehehe 😉
-
Pro kontra yang menempel di isu-isu yang berhubungan dengan kaum Yahudi yang membuat hampir seluruh orang di dunia penasaran siapa sebenarnya, mau apa, dan akan seperti apa kaum Yahudi. Sebut saja Nazi versus Yahudi, Yahudi di selipan World War, Yahudi di antara konflik Palestina dan Israel, hingga isu tokoh kaum Yahudi yang akan menjadi penguasa dunia.
Beberapa buku telah banyak menceritakan mengenai sejarah, perkembangan, dan cita-cita Yahudi dengan versi, sumber dan analisis yang beragam. Kalau pernah membaca History of God tulisan Karen Armstrong, buku itu menceritakan hubungan antara Yahudi, Kristen dan Islam namun tidak utama bersumber pada Kitab Suci terlebih Al-Quran, paling hanya kutipan yang disambung-sambungkan. Kalau buku Holocaust Industry lebih menceritakan Yahudi pada masa kejayaannya dan keterpurukannya selama fase perang dunia, isinya tentu lebih dominan politik. Buku dengan genre fiksi pun tidak kalah, The Boys with Stripped Pyjamas cukup berhasil menghpnotis pembacanya tersedu-sedu iba pada kaum rakyat bisasa Yahudi yang harus menerima akibat dari pimpinan Yahudi yang berperang. Bagusnya buku ini sampai-sampai dijadikan film layar lebar dengan menonjokan nilai-nilai universal yaitu bagaimanapun peperangan selalu menimbulkan kerugian bagi keturunan-keturunan yang tidak bersalah sama sekali, terlebih anak-anak.
Nah buku yang akan diresume di sini adalah buku yang direkomendasikan untuk dibaca. Sebuah buku tulisan Manshur ‘Abdul Hakim (penulis Timur Tengah yang beragama islam). Aslinya buku ini adalah berbahasa Arab, namun buku yang saya baca adalah yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang diterbitkan Mizania pada Oktiober 2015. Sudah sejak November 2015 buku ini dibeli, namun baru berhaasil dirampungkan akhir-akhir ini. Yang spesial dari buku ini adalah analisis penulis yang luas bersumber pada Al-Qur’an, Perjanjian Lama (Taurat), Perjanjian Baru (Injil) dan fakta-fakta sejarah.
Poin-poin penting yang disampaikan Manshur ‘Abdul Hakim dalam buku ini adalah:
1. Beberapa kali Al-Qur’an menyebutkan seolah olah bahwa Bani Israel sama dengan Yahudi. Setelah ditelusuri, Yahudi tidak sama dengan Bani Israel. Yahudi adalah kaum yang dahulunya berasal dari Bani Israel yang kemudian membantah dan mendirikan ritual sendiri yaitu kepercayaan atau agama Yahudi.
2. Bani Israel adalah kaum yang berasal dari Nabi Ya’qub as. Bani Israel ini pun berkaitan erat dengan bangsa Ibrani. Bangsa Ibrani, seperti penggalan kata yang ada pada kata Ibrani, yaitu bangsa dan keturunan dari Nabi Ibrahim as. Berdasarkan riwayat dan sejarah, Nabi Ibrahim (Abraham) menikah dengan Keturah, Siti Sarah dan Siti Hajar. Nabi Ismail as adalah putra dari Nabi Ibrahim as dan Sitii Hajar, sedangkan Nabi Ishak as adalah putra dari Nabi Ibrahim as dan Siti Sarah. Nah, Nabis Ishak as memiliki putra yaitu Nabis Ya’qub (Jacob) yang banyak disebut namanya dengan sebutan Israel.
3. Bani Israel terkenal terdiri dari 12 suku/kabilah yaitu masing-masing merupakan keturunan atau anak dari Nabi Ya’qub (Israel), salah satu keturunannya adalah Nabi Yusuf as.
4. Berdasarkan hal tersebut diketahui bahwa agama yang dianut oleh Bani Israel adalah agama yang disebarkan oleh Nabi Ya’qub as yaitu islam. Sementara sifatnya manusia adalah tidak semua bani israel taat dan patuh pada perintah Islam.
5. Diketahui bahwa pada masa perjalannya ada yang meriwayatkan 2 dari 12 kabilah (yang mayoritas nilai Yahudi nya lebih kuat) ini hilang pada saat peperangan dan tak ditemukan. Disinyalir bahwa beberapa kaum ini lah sudah tersebar ke penjuru dunia bercampur dan berasimilasi dengan masyarakat asli penduduk. Ini terbukti dari ditemukannya kaum Yahudi di beberapa banyak negara memiliki ritual yang mirip dengan ritual ketuhanan yang dilakukan oleh kaum dari kabilah yang selama ini dicari. Sejak saat ini lah dipahami bahwa kaum Yahudi adalah keturunan dari orang-orang yang menganut agama Yahudi atau pemeluk agama Yahudi yang telah disebarluaskan dan dikembangkan oleh para pewaris dari kabilah yang hilang.
6. Mengenai isu pro kontra perebutan wilayah Yerussalem/Palestina. Beberapa kaum Yahudi yang ditemui saat ini memiliki persepsi berbeda-beda mengenai keinginan untuk kembali dan menguasai Tanah Suci Yerussalem/Palestina. Diantara mereka ada yang sangat peduli untuk menyatukan seluruh Yahudi dan kembali menguasai Yerussalem/Palestina. Adapun, tidak sedikit kaum Yahudi yang tidak peduli untuk kembali ke Tanah Suci.
7. Berkaitan dengan poin nomor 5 dan 6, sehingga Yahudi yang ada saat ini yang tersebar di berbagai tanah dan negara adalah tidak serta merta keturunan Bani Israel karena mereka telah bercampur gen hingga beberapa keturunan. Hal ini tentu menjadi highlight yang sangat besar bahwa kaum Yahudi saat ini tidak ada kaitannya dengan keinginan Bani Israel untuk kembali ke Tanah Suci Yerussalem/Palestina. Bahwa momok keinginan kaum Yahudi ingin kembali ke menguasai Tanah Suci Yerussalam/Palestina yang sesuai dengan misi Bani Israel adalah disinyalir hanya alih alih kepentingan golongan dengan identitas Yahudi yang ingin menguasai dunia atau disebut para Zionis. Meskipun lebih dalam lagi buku ini juga mengulas bahwa tidak menutup kemungkinan masih ada beberapa gelintir yang benar-benar keturunan Bani Israel dalam tubuh para Zionis tersebut.
Tidak mudah membuat resume dari buku ini, jadi lebih baik dibaca secara detail dan berulang-ulang ditambah dengan membaca dari sumber lain yang juga terpercaya. Noted and suggested to my self too.
Terus lah mencari kebenaran dengan harapan menjadi manusia yang tidak mudah diprovokasi dengan isu-isu sensitif namun ternyata dibohongi dengan fakta yang diubah dan digeser dipindahkan.
Karena setiap dukungan satu manusia kepada suatu hal amatlah besar dampaknya bagi dunia dan terlebih Islam mengingatkan bahwa sesungguhnya setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban.
CMIIW (Correct Me If I am Wrong), Wallaahu a’lam bish-shawaab.
-
Kukira hujan bisa diciptakan dengan kita menguapkan air dari dapur kecil rumah, ternyata perlu air sebanyak lautan.
Kukira engkau pun bisa ditemukan hanya duduk mengamati orang yang berlalu lalang, ternyata perlu melangkahkan kaki -yang jauh- menuju ke tempat-tempat dimana ada kemungkinan kamu ada; kampus, masjid, taman, perpustakaan, toko buku, dan rumahmu.
Kukira menunggu pun tak akan menjemukan dengan banyak bacaan, ternyata menunggu lebih butuh kesabaran daripada hal lain. Lebih butuh banyak keikhlasan bahwa ada waktu yang harus hilang karena sesuatu yang tidak tentu sesuai harapan.
Kukira aku cukup belajar dari buku dan mendatangi kajian, ternyata ilmu yang sesungguhnya adalah yang diamalkan, bukan yang dihafalkan. Dan sekolah di kehidupan menguji setiap hal yang pernah aku tulis dalam catatan.
Kukira yang memperjuangkan akan selalu mendapatkan apa yang diperjuangkan, ternyata hukumnya tidak demikian. Agar setiap orang tidak lupa bahwa urusan hasil adalah kuasa Tuhan.
Dan aku menjadi mengerti.
(dikutip dari Kurniawan Guniadi)
-
“Laoshi, Why did Michael Jackson get surgery turning himself to be white while he said ‘no matter if you’re black or white’ in his song?”
(Tty, 11 years old) -
Manusia disekitar mungkin pernah mengira kita tidak memiliki masalah. Karena yang mereka tahu kita selalu tampak ceria. Dikira lahir dari keluarga yang hebat, lulusan pendidikan tinggi, pekerjaan yang bagus di perusahaan besar. Tapi mungkin mereka adalah manusia yang melihatmu hanya dari jam 8 pagi hingga 5 sore, atau yang hanya berpapasan saat jam makan siang, atau yang hanya bertemu saat menghabiskan waktu luang di malam selepas bekerja, atau malah yang hanya bertemu di parkiran atau menunggu angkutan umum, atau bahkan mungkin yang hanya tau lewat cerita yang dishare di sosial media.
Di pikiran mereka, kita tidak punya kesulitan, ketakutan, atau pun kesedihan. Mereka sungguh tidak akan pernah tahu yang sebenarnya kita hadapi dan miliki sampai kita sendiri yang menceritakan kesulitan, ketakutan, dan kesedihan kita tentang sesuatu yang kita rahasiakan. Mungkin tentang masa lalu, masa depan, masalah keluarga atau orang tua, finansial, tidak nyaman bekerja ataupun yang lainnya. Manusia di sekitar kita itu tidak benar-benar tahu.
Bisa jadi, kita terlihat begitu baik-baik saja, tertawa renyah yang riang, bercerita berapi-api tentang impian dan segala keinginan, hingga kebanggaan atas keberhasilan yang diraih. Namun di belakang itu, mereka mungkin tidak pernah tahu selepas itu, setelah berpisah dari pertemuan dengan mereka, saat kembali ke rumah dan menginjakan kaki ke kamar seorang diri, kita kembali dibuat memikirkan tentang kekhawatiran dan ketakutan.
Karena tidak ada yang selalu baik-baik saja dan tidak ada yang selalu tidak baik-baik saja.
Bersyukurlah! -
“Menikahlah Nak manakala dirimu sudah benar-benar siap. Siap di sini bukan hanya faktor usia, pendidikan dan finansial. Tapi benar-benar siap menerima orang lain untuk menjadi bagian dari diri kita. Seperti daging dengan darah.
Ilmu mengenal diri harus benar-benar diamalkan. Kalau kita seorang pencemburu, posesif, sangat mengagungkan privasi, jangan menikah dengan aktifis populer dan relawan yang murah hati lapang segala. Jika kita seseorang yang mau benar sendiri tak mau dibantah, jangan bermimpi punya pasangan cerdas, dan sehat yang pastinya kritis.
Banyak orang sesumbar ingin punya pasangan shalih/shalihah, cerdas, sehat, kaya, pemurah, dari keluarga “Intelek” dsb..dsb. Lalu setelah menikah stress sendiri karena tak mampu mengimbangi gaya hidup orang “Intelek” karena masih suka sembarangan.
Jadi ya mari mengukur dan memantaskan diri. Pernikahan bukan “Kamar Sakti” yang membuat orang berubah. Jadi jangan bermimpi setelah menikah bisa merubah pasangan. Yang paling bisa kita lakukan hanya penyesuaian, pemaafan, dan pengikhlasan yang tiada akhir
Karena nenek moyang kita dari jaman baheula sudah berulang-ulang mengingatkan, bahwa cinta adalah pengorbanan. Terdengar sangat klise. Namun sangat benar adanya.”
(Ibu Tatty Elmir) -
Apa mungkin aku ini seperti lilin ulang tahunmu. Yang kau padamkan, yang orang-orang bertepuk tangan riuh kemudian.


